Senin, 27 September 2010

POLITIK TRANSAKSIONAL

Dikalangan politisi, istilah Politik transaksional sudah tidak asing, namun dikalangan awam orang lebih senang menyebut politik dagang sapi. Dalam perkembangan terakhir ini, politik transaksional sebenarnya mengalami perkembangan pengertian lebih luas. Transaksional tidak hanya dimaknai jual beli atau tukan menukar, melainkan penilaian terhadap Visi, Misi dan Program kerja yang ditawarkan kepada masyarakat sebagai konsep pembangunan lima tahun mendatang.

Yang jadi masalah adalah memahami dan mengawasi pengaplikasian Visi, Misi dan Program kerja dimaksud, apakah dapat diimplementasikan dan direalisasikan dalam kurun waktu lima tahun, atau hanya sekedar pemanis dibibir saja, sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan jauh api dari pada panggang.

Rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap calon pemimpin (Politisi), dipihak lain banyaknya contoh pemimpin yang sering melupakan masyarakatnya, mengakibatkan pergeseran makna transaksional kepada arah yang lebih kongkrit, sehingga pertanyaan-pertanyaan dibawah ini sering muncul.

Kalau saya memilih bapak, saya kebagian apa ?
Kalau saya memilih ibu saya jadi apa ?
Ada uangnya tidak ?

Kurang lebih pertanyaan tersebut mewakili ribuan pertanyaan yang bersifat transaksional, sehingga transaksional jadi barter kepentingan seperti zaman belum ada alat tukar (uang).

Kalau politik transaksional dimaknai sempit seperti itu, apa bedanya kita orang modern dengan orang purbakala zaman dulu ????

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar